
Sebagai orang Indonesia, saya juga sebetulnya heran dengan warga keturunan chinese yang terlalu membangga-banggakan ke-chinese-annya. Apa sih yang sudah China berikan untuk kalian? Apakah kalian akan tetap diakui saat berkunjung ke China? Apakah dengan kebanggaan kita sebagai orang chinese bisa memberikan kita free pass ke China? Atau passport China barangkali?

Sudah sejak lama peraturan three-in-one ini diberlakukan, tapi sudah sejak lama pula pengendara mobil melanggarnya. Saya tadi sempat bertanya kepada suami “siapa yang pertama kali punya ide jadi jockey? Gimana kalau ternyata yang di dalam mobil itu germo? Gimana kalau jockey ini dibawa lari dan dijual?”, lalu siapa pula yang pertama kali berani menaikkan jockey ini ke dalam mobilnya? Bukankah di Jakarta sangat rawan penipuan? Jangan-jangan mereka bukan jockey tapi perampok.

Saya jadi teringat sewaktu pertama kali saya ditawari oleh seorang ibu-ibu untuk membawakan barang belanjaan saya. Dengan nada bercanda saya berkata:”Gimana kalau saya yang diduduk di keranjangnya dan ibu yang angkut?”.
Dulu saya menganggapnya sebagai lelucon, tapi sekarang hati saya terenyuh apalagi melihat beberapa anak perempuan yang umurnya mungkin hanya sekitar 10 tahun juga ikut berkeliling menawarkan jasa angkut kepada pembeli.

Saya kecewa karena negara kita yang katanya berbudaya ini dan yang menghembuskan perperangan dengan negara tetangga lantaran hasil “karya” mereka dijiplak, ternyata merekalah jugalah yang sudah banyak mencontek hasil karya orang lain.

Muter-muter Bali memang paling enak. Loncat dari satu hotel ke hotel yang lain dalam waktu 10 hari. Walaupun agak sulit karena kami tidak begitu kenal jalan jalan di Bali. Tapi untungnya ada GPS (Global Positioning System) yang membantu kami untuk mencapai tempat-tempat yang kami inginkan. Mulai dari Denpasar, Nusa Dua, Tanjung Benoa, Sanur, Candidasa, Ubud, [...]