Telur dan Kentang
Saat ini saya bukan mau bercerita soal makanan, resep masakan atau tips tentang memasak tapi saya mau membagikan cerita kehidupan. Saya memang senang dengan cerita kehidupan dimana dengan mata kepala saya sendiri saya menyaksikan sahabat-sahabat saya tumbuh atau pun runtuh. Saya bisa ngobrol berjam-jam soal kehidupan.
Sering kali orang bilang saya naif. Sering kali saya mengharapkan surga di dunia dimana hanya kebaikan yang menyelimuti. Tapi semua itu memang hanya mimpi-mimpi saya belaka. Seandainya dunia ini seperti impian saya, tentu penjara akan kosong. Pastur-pastur tidak perlu lagi mengadakan doa penyembuhan luka batin atau konseling. Tentu dunia juga mungkin tidak akan semenarik sekarang. Stasiun televisi mungkin hanya diisi dengan sinetron atau sederetan musik. Mungkin pula kita akan bosan tinggal di dunia ini. Tanpa sensasi, tanpa gosip, tanpa sengatan listrik yang membuat kita sport jantung.
Semua yang pernah kita alami dalam hidup, baik dan buruknya, akan membentuk kita menjadi dua karakter manusia yang berbeda. Sewaktu kita dilahirkan, kita bak kain putih yang bersih. Seiring berjalannya waktu, kain itu tidak lagi putih. Ada banyak coretan. Mungkin ada yang berwarna merah, hitam, hijau, biru dan lain-lain.
Dalam ilmu kuliner, saya mengambil contoh telur dan kentang. Anda adalah sebutir telur jika anda menjadi keras setelah dipanaskan. Sebaliknya anda adalah sebuah kentang, jika anda menjadi lunak setelah dipanaskan.
Saya sendiri mengibaratkan diri saya seperti telur. Seperti yang anda tahu, mula-mula telur adalah benda yang tidak padat. Kalau kita memecahkan telur yang masih fresh, kita akan lihat bahwa isinya hanyalah cairan. Saya dulu seperti itu. Sewaktu saya kecil atau sebelum saya mengalami demam tinggi, saya adalah telur yang fresh, cair mengalir flexible. Pemanasan membuat telur menjadi keras. Pemanasan hidup yang pernah saya alami membuat saya menjadi keras.
Berbeda dengan sahabat saya. Ia adalah sebuah kentang. Saya memanggilnya kentang rebus. Mengapa? Kalau kita ambil kentang yang masih fresh, bentuknya padat keras. Lalu kentang itu direbus dengan permasalahan kehidupan. Akhirnya kentang itu pun menjadi lunak. Seperti sahabat saya, ia menjadi lunak dan penuh cinta.
Saya sangat mengerti kalau saya pun seharusnya menjadi kentang, tetapi saya lebih memilih menjadi telur. Dan bukannya saya tidak ingin menjadi kentang, tapi saya terlanjur jatuh cinta kepada telur. Hmm…semoga suatu hari nanti saya dapat mengubah telur menjadi kentang.
Bagaimana dengan anda? Apakah anda sebutir telur atau sebuah kentang?
Popularity: 17% [?]






Reader Comments
reading your blog is reminding me of the curly kentang fries that i had for dinner. uenak tenan
saya juga suka telor. Telor ayam kampung setengah matang ditaburi merica dan garam. nyummmmmm
Kentang
kalau menurut saya, tak peduli kita telur atau kentang,karena kita memiliki keunikan tersendiri, tak selamanya keras itu jelek dan lunak itu baik. kentang juga bisa menjadi keras jika digoreng (kentang goreng), dan telur juga bisa tetap lunak meskipun digoreng(telur mata sapi setengah matang)..
Mimi Hitam – Wah saya jadi lapar.
Anonymous – Jadi anda suka sama saya? Tapi jangan ditaburi merica dan garam yah, nanti malah ngga enak.
Fauzan – thanks buat masukannya. Mungkin kamu benar, ngga selamanya keras itu jelek dan ngga selamanya lunak itu baik. Salam kenal.
analogi yg bagus
Thanks Depz. Km kentang atau telur? atau bukan dua-duanya?
Saya manusia, bukan telur dan bukan juga kentang.. tapi saya suka makan telur dan juga suka makan kentang, yang sudah dipanaskan tentunya.. =D (lagi cari resep.. sampailah disini)
Kritikavista – haha….iyah….thanks udh mampir. dan maap kalo misleading. Salam kenal.