Percakapan di Pagi Hari
Aku berjalan menuju kantor pos yang memang setiap hari aku kunjungi. Kaki tangan dan mataku telah terlatih untuk mengambil surat-surat yang bersembunyi di dalam kotak kecil bertulis 2018. Setelah mengambil surat, aku bergegas menuju pintu keluar.
Jam masih menunjukkan pukul 6 lewat 10 pagi. Udara pagi yang sejuk membuat mataku terasa berat. Seandainya hari ini tidak ada acara makan pagi di kantor, aku tidak perlu datang sepagi ini. Seandainya para petinggi di kantor ku dapat mengerjakannya sendiri, aku tidak perlu mengambil jatah tidurku yang masih satu jam setengah lagi.
“Siyal!!”
Lamunanku buyar ketika aku tidak sengaja menginjak genangan air yang keluar dari salah satu food stand di food court yang aku lalui. Hari ini aku memang mengambil jalan pintas melalui food court di bawah tanah supaya aku cepat sampai ke kantor. Biasanya aku selalu mengambil jalan memutar supaya aku bisa menikmati rokok ku sebelum bertempur dengan segudang pekerjaan kantor.
Akhirnya aku sampai juga di kantor ku yang sudah sejak lima bulan yang lalu rajin ku kunjungi. Aku mengambil swipe card ku dari dalam tas lalu men-swipe-kannya di dekat pintu masuk. Pintu terbuka dan aku buru-buru masuk menuju lift yang akan membawa ku ke lantai 6. Perjalanan menuju ke ruanganku menjadi ajang memata-matai. Aku melirik ke kanan ke kiri. Belum ada yang datang. Ku lirik jam di handphone ku. Oh…ternyata baru pukul 6.20 pagi.
Kunyalakan komputerku sambil melihat ketumpukan folders yang seakan tak sabar untuk dibagikan kepada tamu yang akan datang nanti.
“lho? mana denahnya?”
Kemarin aku sudah berpesan kepada rekan kerja ku supaya ia meninggalkan denah itu di atas tumpukan folders sebelum pulang. Ku hampiri meja kerjanya. Argh…ternyata dia tidak membuatnya. Dalam hati, aku geram sekali, soalnya sejak kemarin dia yang sibuk campur tangan, tapi hasilnya nihil sekarang.
“Untung kertas coretan meeting kemarin masih aku simpan” gumamku. Buru-buru aku menyalinnya ke komputer dan kemudian print. Selesai.
Tak berapa lama kemudian, rekan kerja ku yang lain berdatangan. Jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih 45 menit.
“Should we go down now, guys?” tanyaku kepada mereka.
“Yeah…let’s go”
Kami turun ke lantai satu ke tempat dimana acara makan pagi itu akan di gelar. Sambil menjinjing folders tersebut, aku berjalan mengikuti irama mereka-mereka yang ada di depan ku. Sesampainya kami di tempat tujuan, aku cepat-cepat menaruh folder-folder yang ada di tanganku ke atas setiap piring yang telah ditata untuk para tamu. Dengan mengunakan denah yang telah kubuat tadi, aku dapat menyelesaikan tugas ku kurang dari 10 menit.
Saat aku bersiap kembali ke ruangan ku di lantai 6, managerku bilang “Rose, we have not started yet. You just wait here in case some guests are coming late”.
Memang masih ada 6 tamu yang belum datang. Santap pagi yang seharusnya di mulai pukul 7.30 pagi pun diundur lima belas menit. Aku menarik nafas, lalu dengan sabar berdiri di samping pintu sambil berbincang dengan salah satu dari dua waiter yang nantinya bertugas untuk membagikan makan pagi.
“How are you today?” tanya si waiter yang belakangan ku ketahui namanya Dan.
“Sleepy” jawabku pendek tapi jujur.
Si waiter itu pun tertawa. Lalu katanya:
“What time did you get here?”
“Six”
“O…are you finishing early?”
“No”
“Do you get overtime?”
“No”
“O…wow. Your company must appreciate you very much”
Aku hanya menyunggingkan ujung bibirku sebelah kanan.
“Yeah…I hope” kataku dalam hati.
Si Dan berlalu dari hadapanku. Hatiku sedikit perih.
“Rose, can you call upstairs and check whether Rihanna and Sonia have turned up? If so, ask them to come down and join the breakfast” tiba-tiba pimpinan muncul dibalik pintu sambil memberikan blackberry-nya kepadaku supaya dapat kupakai untuk menelepon.
“Dasar kampung. Udik. Ngga pernah pake blackberry!” makiku dalam hati karena beberapa kali aku salah memencet tombol yang ada disana. Aku menelepon Rihanna dan Sonia dua tiga kali, namun tidak ada jawaban.
“Yah wajar aja…ini kan baru pukul 7.40 pagi. Jam kerja kami biasanya 8.45 pagi sampai 5.15 sore” lagi-lagi aku berbicara dengan diriku sendiri layaknya seorang autis.
Lima belas menit sudah berlalu. Enam orang tamu yang missing in action itu tak kunjung datang. Pimpinanku akhirnya memutuskan agar makan pagi dibagikan sambil tetap menyuruhku menunggu.
Kupandangi dua waiters yang lalu-lalang. Yang satu si Dan, yang satu lagi entah siapa. Tinggi mereka hampir sama, tapi yang satu blonde yang satu lagi berambut hitam. Dua-duanya masih muda sekali menurutku, mungkin sekitar 20 tahun.
“Are you having breakfast?” tanya si Dan.
“Nah…I am waiting for the guests” jawabku seadanya.
“No…I know. But will you be having breakfast?” tanyanya lagi.
“No. I won’t”
Si Dan mengangkat bahunya kemudian berlalu.
Pasti dia merasa begitu aneh, mengapa aku datang pagi-pagi hanya untuk meletakan folders di atas meja lalu pergi. Aku sendiri pun merasakan hal yang sama. Aku sendiri tidak dapat mengerti apa arti kehadiranku disana.
“Have you had breakfast?” kali ini si blonde bertanya padaku.
Ah…mengapa semua orang hari ini banyak bertanya? Mengapa mereka tidak bisa membiarkan aku sendiri?
“No” jawab ku singkat.
“We still have some spare if you like”
“No. Thanks for the offer, though”
“O well. That’s alright” katanya sambil melenggang pergi.
Aku malu…
Hampir airmataku jatuh, namun kutahan. Lalu aku meminta Dan untuk mengembalikan blackberry atasanku yang sedang asik berpidato, supaya aku dapat pergi dari tempat itu.
Kakiku terasa lemas. Aku berjalan keluar dan menyalakan rokok yang ada di kantongku. Kuhisap dalam-dalam. Kepalaku tertunduk. Mungkin pipiku pun merah merona karena malu. Aku ingin pulang, tapi apalah daya…aku masih harus melanjutkan hariku bahkan bulan sambil berhadapan dengan orang yang mempermalukan aku.
Ini hanyalah sepenggal cerita. Cerita tentang percakapan di pagi hari.
Popularity: 15% [?]






Reader Comments
Kyk cerpen, In…btw ada ya makan bersama2 pagi2 di tmp kerja….pagi amat…kacian de
iyah ada. minggu lalu.
apa sieh maksud endingnya? bingung….=P -smile…
Neng, si jack kemane?? udah ga maen di anjungan kapal lagi tuh??
sejak kapan emang neng ganti nama?? demen pa titanic or ngimpi berdiri di anjungan kapal nya??
ntar deh… kita wujudkan impian anda, berdiri berdua ama sang suami tercinta di anjungan kapal PELNI aja yhaa???
Kritikavista – wah…jgn atuh. kalo titanic kapalnya berlayar, tabrak es baru tenggelem. kalo pelni, belom apa2 udh tenggelem. hhahaha…joking. peace..!!!
Can you tell me who did your layout? I have been looking for one kind of like yours. Thank you.
Kritikavista – Hello…it’s a template called CognoBlue 1.0 by blogsdna. Just download it from the web. Cheers…