Rocker juga manusia
Bermula dari message yang saya terima di situs pertemanan Friendster yang bunyinya:
Nama saya A, saudara dari C.(Foto di friendster bukan milik saya).
Saya mengirim pesan ini dengan asumsi Anda adalah teman C.
Saat pesan ini dikirimkan, C telah menghilang selama sekitar 2 hari dan keluarganya sedang mencarinya.
Saya berharap Anda dapat memberitahu kami keberadaan C, atau setidaknya terakhir kali Anda bertemu dengannya, atau sekurang-kurangnya orang lain yang mengetahui keberadaanya.
Terima kasih.
Jujur saja, walaupun itu kali yang pertama saya menerima pesan seperti yang diatas, saya sering menerima pesan dengan nama lain “Junk” yang isinya hampir mirip seperti yang diatas. Oleh karena itu, saya tidak mau terjebak. Apalagi ketika sama melihat foto-foto di Friendster-nya yang acak adul, saya merasa lebih tidak yakin dengan si A ini.
Namun karena penasaran, akhirnya saya meng-sms teman saya yang lain yang ada di Indonesia. Untuk informasi anda, saya dan si C ini memang teman baik. Dulu saat kami masih bersekolah di salah satu sekolah swasta di kota yang terkenal dengan empek-empeknya, kami sering sekali ngumpul. Entah itu hari biasa atau hari libur. Kadang kami pergi ke gereja bersama-sama. Singkat cerita, dulu kami ber-5 (termasuk saya dan si C), sering kumpul bareng. Semenjak saya pindah ke negara lain, hubungan kami memang tidak sedekat dulu. Hanya satu atau dua kali setahun kami bertukar berita, atau kalau tidak saya pasti mendengar berita dari 3 orang anggota yang lain.
Cerita punya cerita, tunggu punya tunggu, balasan sms yang saya tunggu tidak kunjung datang. Saya berusaha untuk online supaya saya dapat mengklarifikasikan berita tersebut. Namun tak satupun dari mereka nonggol di layar messenger saya. Lalu hari itu pun berlalu. Saya menganggap berita itu hanya tipuan belaka.
6 Jan 2009, sore itu saya mendapatkan pesan dari salah seorang dari ke-3 teman saya. Bunyinya “vy, kirimin no HP loe donk. Ada berita penting”. Lalu saya membalas pesannya sebagai berikut “Wah…ada apa nih? mau merid yah? Ini no HP ku +612 433 xxx xxx”.
7 Jan 2009, saya mendapat balasan dari teman saya berinisial J. Katanya “Yah…kalo merid mah ngga ngagetin lagi. Ini gue mo cerita soal si C. Dia sudah menghilang sejak 3 hari yang lalu. Mamanya nangis terus…”. Mendadak mata saya melotot. Jantung saya melonjak. Ternyata berita itu bukanlah isapan jempol atau modus penipuan. Ternyata teman saya betul-betul hilang atau lebih tepat disebut menghilangkan diri sendiri alias kabur. Ingin rasanya saya menelpon si J langsung, tapi saya sadar bahwa pulsa saya akhir-akhir ini melonjak. Bukannya saya pelit atau tidak peduli tapi saya memang sedang kanker a.k.a kantong kering. Jadi, saya hanya bisa membalas pesan itu “lho? memangnya dia ada masalah apa sih?”
8 Jan 2009, “Katanya dia stress semenjak abangnya meninggal dunia. Oleh karena itu, dia bilang mau menyendiri dulu beberapa hari. Baru saja kita terima email dari dia yang mengatakan bahwa dia sekarang dia baik-baik saja dan ngga perlu khawatir. Dia akan segera pulang kalau dia merasa lebih tenang.” Saya menarik nafas lega.
Apa moral dari cerita ini? “Don’t judge a book by its cover”. Betul sekali. Teman saya si C ini, terkenal tomboy dan lucu. Beberapa kali saya ngobrol dengan dia, dia kedengaran begitu dewasa namun tetap kocak. Namun siapa sangka, bahwa dia menyimpan duka. Saya juga baru tahu kalau dia belum bisa menerima kepergian abangnya sampai sekarang. Setahu saya, abangnya meninggal 2 atau 3 bulan yang lalu.
Kalo menurut buku psychology yang saya baca memang orang-orang yang tomboy atau bawel itu terkadang adalah orang yang malahan paling fragile. Mereka biasanya menyembunyikan ke-fragile-annya didalam sikap mereka yang tomboy, bawel ataupun lucu. Tak jarang penonton kaget melihat orang yang kesannya begitu keras dapat menangis sejadi-jadinya bisa terkena suatu musibah. Kok jadi kaya lagunya Seurieus Band yang berjudul “Rocker juga manusia”, yah? Tomboy juga manusia, punya hati dan perasaan.
Yah…semoga teman saya itu cepat kembali dari persembunyiannya dan menjalani kehidupannya seperti sediakala. Amin.
Popularity: 14% [?]






Reader Comments
saya mengomentari komentar anda pada posting “2 pesan 2 tujuan”. dalam komentar tersebut anda berkomentar “hamas yang salah, bom sana-sini… (dst)”.
saya kira anda terlalu naif, anda menuduh hamas yang mengebom dengan mortir yang bahkan “cuma” melukai 1-2 orang (jarang sampai ada yang tewas dengan serangan hamas) sebagai pihak yang salah, sementara israel yang menyerang memBABIbuta, menwaskan 460 (dan masih akan terus bertambah nampaknya) warga sipil, sebagian diantaranya anak-anak dan wanita (yang bahkan sedang berlindung di tempat pengungsian yang dikelola PBB!!!) sebagai “korban”? sungguh anda naif sekali. dan entah di mana logika anda.
jika hendak merunut jauh ke belakang, apa yang diperjuangkan hamas, fatah, dan PLO (dengan metodologinya masing-masing) adalah perjuangan menegakkan kedaulatan. jika lihat peta palestina semenjak tahun 1948 s.d. sekarang, nampak sekali israel bertindak sebagai agresor, hingga negara palestina yang tadinya berdaulta tinggal tersisa di jalur gaza dan tepi barat. dan dengan berbagai dalil tak masuk akal yang dipaksakan, amerika selalu berdiri di belakang israel.
ketika melihat berita di setiap pagi sebelum saya berangkat ke kantor, begitu teriris saya melihat mayat-mayat bayi-bayi palestina korban kebiadaban israel, yang lebih menggiriskan adalah, pandangan sebagian orang (seperti siapa? anda tahu sendiri lah!) bahwa mereka adalah para pelaku, dan operator rudal-rudal dan pesawat-pesawat tempur dan senjata mutakhir lainnya sebagai korban.
btw, saya setuju dengan komentar bahwa anda apa-apa yang positif haurs bisa kita tiru, termasuk dari amerika dan israel, itu saja saya kira.
Kritikavista – Halo G. Thanks udh mampir. Ya kalo menurut saya sih, bom yang kecil2 juga kalo diluncurkan tiap hari, akan memakan korban yang sama dengan bom dasyat yang diluncurkan sekali. Saya bilang sih, ada api ada asep. Jadi ngga mungkin kan Israel tiba2 nge-bom? Coba anda baca ini:
http://lunjap.wordpress.com/2009/01/02/perang-israel-dan-palestina-hamas/
Saya sependapat dengan si penulis. Dan semoga anda bisa lebih berpandangan objektif daripada subjektif. Peace!!!
Kalo menurut buku psychology yang saya baca memang orang-orang yang tomboy atau bawel itu terkadang adalah orang yang malahan paling fragile <— wah boleh juga tuh teorinya mba.
benar sekali, ada api pasti ada asap. dan apinya adalah pernyataan kemerdekaan israel di tanah palestina, dan tidak hanya itu, pencaplokan wilayah-wilayah negara berdaulat, sedikit demi sedikit (tapi konstan), asapnya adalah mortir-mortir, yang ditimpali dengan rudal-rudal.
bayangkan begini: di Indonesia, tiba-tiba ada sekelompok orang mendeklarasikan negara timur merdeka (atau apapun namanya), oke hal itu bisa diterima. lalu, sedikit demi sedikit, wilayah negara timur merdeka itu di perluas, sehingga yang namanya Indonesia tinggal jakarta dan sebagian kecil kalimantan timur.
saya kira, fakta-fakta ini cukup jelas untuk bisa ditelaah dengan obyektif, siapa api dan siapa asapnya. entah apa subyektifitas menurut anda?
*imel aja*
memang kenyataannya seperti itu. karena tipe orang seperti C, adalah tipe orang yg suka menahan-nahan kesedihannya. karena dia tidak mau orang lain mengetahuinya. Sehingga pas mereka benar-benar sudah tidak kuat menahannya sendiri, yahh…jadinya seprti api yang meledak-ledak (perumpamaannya bener gak yah?)
Kritikavista – Iya…kurang lebih begitulah. hehe…makasih yah udh mampir.
dalam hati siapa yang tau ya?jadi,kalo orang yang tampak luarnya justru feminine dan keliatan manja banget(kebalikannya),malah bisa jadi inside-nya lebih kuat ya?apa belom tentu juga?heheh.
o iya,makasih banget udah mampir keblogku,dan kasih komennya ya mbak.salam kenal….:D
Kritikavista – Sama pak.
kok jadi pak ya?hehe…
Kritikavista – duh..maap…mbak ya? hahaha…maklum d kantor.